National Media Nusantara
Samarinda

Korsleting Listrik Masih Jadi Penyebab Utama Kebakaran di Samarinda

Teks: Kebakaran yang terjadi di Jalan Dr Soetomo Samarinda yang menghanguskan 28 rumah

Samarinda, Natmed.id – Korsleting listrik masih menjadi penyebab utama ratusan kejadian kebakaran di Kota Samarinda sepanjang tahun 2025. Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkar) Samarinda mencatat, dari total 185 kasus kebakaran yang terjadi selama tahun ini, sebagian besar dipicu oleh hubungan arus pendek listrik.

Teks: Kepala Disdamkar Samarinda Hendra

Kepala Disdamkar Samarinda Hendra mengatakan meski jumlah kebakaran mengalami penurunan dibandingkan tahun 2024 yang mencapai 266 kejadian, faktor kelistrikan masih mendominasi penyebab kebakaran di wilayah perkotaan.

“Dari ratusan kejadian kebakaran di Samarinda, penyebab terbanyak masih korsleting listrik atau hubungan arus pendek. Selebihnya disebabkan oleh kompor yang ditinggalkan dan kebocoran gas,” ujar Hendra, Rabu 17 Desember 2025.

Berdasarkan data Disdamkar, penurunan angka kebakaran tahun ini mencapai sekitar 30,45 persen. Namun, Hendra menegaskan tren penurunan tersebut tidak boleh membuat masyarakat lengah, mengingat dampak kebakaran yang masih menimbulkan korban.

“Beberapa kejadian kebakaran menimbulkan korban luka bahkan korban meninggal dunia. Salah satu faktor yang memperparah dampak kebakaran adalah kondisi bangunan yang tidak memiliki akses evakuasi memadai,” jelasnya.

Disdamkar menyoroti masih banyak bangunan, khususnya rumah toko (ruko), yang tidak dilengkapi pintu darurat. Kondisi ini dinilai berbahaya karena dapat membuat penghuni terjebak saat kebakaran terjadi.

“Banyak ruko tidak memiliki pintu darurat. Ketika api membesar, penghuni bisa terkurung di dalam karena tidak ada jalur keluar,” kata Hendra.

Ia menekankan bahwa penanganan kebakaran tidak cukup hanya berfokus pada pemadaman saat kejadian, tetapi harus diperkuat dari sisi pencegahan dan mitigasi risiko.

“Kebakaran itu bukan hanya soal pemadaman yang lebih penting adalah bagaimana mitigasi dan pengurangan risikonya melalui edukasi, sosialisasi, dan simulasi kepada masyarakat,” ujarnya.

Masih banyak warga yang belum memiliki kesadaran terhadap bahaya kebakaran, seperti tidak menyediakan alat pemadam api ringan (APAR) di rumah atau tempat usaha, serta menganggap risiko kebakaran sebagai hal sepele.

Menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026, Disdamkar Samarinda juga mewaspadai potensi kebakaran akibat meningkatnya aktivitas masyarakat, terutama penggunaan kembang api dan air mancur.

“Beberapa kejadian kebakaran sebelumnya terjadi karena anak-anak bermain kembang api atau air mancur, seperti di Jalan Agus Salim dan Jalan Lambung Mangkurat. Kami mengimbau masyarakat tidak bermain kembang api di sembarang tempat,” tegasnya.

Untuk mengantisipasi potensi kebakaran selama masa Nataru, Disdamkar Samarinda menyiagakan 175 personel yang tersebar di 11 posko di seluruh wilayah kota.

“Kami siap siaga penuh menjelang Natal dan Tahun Baru. Personel sudah disiapkan untuk merespons cepat jika terjadi kebakaran,” pungkas Hendra.

Related posts

Kabar Baik Di Hari Kemerdekaan, Remisi Untuk WBP

Febiana

Perjuangan Masa Kini Bukan Lagi Perang, Tapi Aksi dan Inovasi

Rhido

KSOP Samarinda Masih Lakukan Penyelelidikan Penabrak Tongkang

natmed

You cannot copy content of this page