Samarinda, Natmed.id – Dunia koleksi mobil miniatur atau yang akrab disebut diecast kini bukan lagi sekadar mainan anak-anak. Di Samarinda, hobi ini telah berkembang menjadi komunitas yang solid dan memiliki nilai ekonomi tersendiri.
Amri Husni, salah satu kolektor sekaligus anggota aktif Samarinda Diecast Collectors (SDC), berbagi cerita mengenai dinamika dunia hobi yang ia geluti selama beberapa tahun terakhir.
Amri, yang juga dikenal dengan nama media sosial Ucup Diecast mengungkapkan bahwa komunitasnya kini telah berjalan selama dua tahun sebagai wadah resmi bagi para pecinta miniatur mobil di Kota Tepian.
“Kalau saya pribadi baru terjun di miniscale sekitar 2,5 tahun, tapi kalau komunitas SDC sendiri sudah berjalan 2 tahun. Mayoritas kolektor itu awalnya berangkat dari merek Hot Wheels atau Matchbox. Setelah itu, biasanya kita naik upgrade ke koleksi miniscale yang detailnya lebih presisi,” ujar Amri Husni saat ditemui dalam kegiatan Kopdar Tipis (Koptis) komunitasnya pada Sabtu, 4 April 2026.
Bagi Amri dan rekan-rekannya, berkumpul secara rutin adalah kunci untuk menjaga semangat hobi agar tidak cepat jenuh. Komunitas SDC memiliki agenda rutin mulai dari pertemuan besar hingga pertemuan santai yang mereka sebut sebagai Koptis (Kopdar Tipis).
“Tujuan kopdar itu sebenarnya pertama adalah silaturahmi. Hobi ini kalau dinikmati sendirian di rumah itu jenuh. Kita perlu wadah untuk berbagi, memamerkan koleksi, dan saling upgrade diri lewat informasi dari teman-teman,” jelasnya.
Menariknya, komunitas ini juga menjalin kerja sama dengan pelaku usaha lokal di Samarinda. Salah satunya adalah Move On Cafe yang menjadi markas rutin mereka.
“Kita ada kerja sama dengan Move On Cafe di tengah kota. Member SDC yang punya kartu anggota bisa dapat diskon khusus untuk makanan dan minuman. Jadi, selain menyalurkan hobi, kita juga bantu meramaikan tempat usaha kawan-kawan di Samarinda,” tambah Amri.
Meskipun sempat mengalami masa kejayaan pada tahun lalu, Amri mengakui bahwa tahun 2026 ini memberikan tantangan tersendiri bagi para kolektor. Faktor ekonomi global dan domestik cukup memengaruhi daya beli para diecaster.
“Tahun paling ramai itu sebenarnya tahun lalu. Tahun ini, karena faktor ekonomi dan kondisi negara yang memengaruhi keuangan pribadi, banyak teman-teman yang mulai mengerem belanja. Tapi kita tutupi dengan cara sering kumpul, bahas koleksi lama, jadi hobi tetap jalan walau nggak selalu beli unit baru,” ungkapnya jujur.
Di balik tantangan tersebut, bergabung dengan komunitas memberikan keuntungan finansial bagi para anggota. Melalui sistem berbagi informasi, para kolektor bisa mendapatkan unit incaran dengan harga yang lebih miring dibandingkan harga pasar.
“Harapannya, teman-teman kolektor di Samarinda lebih rajin melihat media sosial komunitas. Di sana kita bisa sharing. Yang bosan bisa jual koleksinya, dan yang cari barang murah bisa dapat dari sesama teman komunitas daripada beli baru yang harganya mungkin sudah tinggi,” kata Amri.
Ia juga menekankan bahwa komunitas adalah tempat terbaik untuk belajar mengenai teknik modifikasi atau custom hingga aksesori pendukung lainnya.
“Dari komunitas ini kita dapat banyak ilmu. Mulai dari info tempat beli yang paling murah, sampai cara upgrade custom dan aksesori. Kalau nggak masuk komunitas, kita sering ketinggalan informasi berharga seperti itu,” pungkasnya.
