Ekonomi

Kemitraan Ekonomi Baru Indonesia–Inggris Sasar Energi Bersih hingga Rantai Pasok

Teks: Menko Perekonomian Airlangga Hartarto dan Secretary of State for Business and Trade Inggris Peter Kyle usai menandatangani Economic Growth Partnership Indonesia–Inggris

London, Natmed.id – Pemerintah Indonesia dan Inggris membentuk kerangka kerja sama ekonomi baru melalui penandatanganan Economic Growth Partnership (EGP) yang menyasar sektor-sektor strategis seperti energi bersih, ekonomi digital, keuangan, pendidikan, hingga penguatan rantai pasok.

Penandatanganan EGP dilakukan oleh Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dan Secretary of State for Business and Trade Inggris Peter Kyle di London, Senin 19 Januari 2026, di sela kunjungan kerja Presiden Prabowo Subianto ke Inggris.

Kemitraan tersebut menjadi bagian dari pilar utama Accord for a New Indonesia–United Kingdom Strategic Partnership yang diluncurkan oleh Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Inggris, sebagai upaya memperdalam hubungan ekonomi bilateral kedua negara.

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan EGP menjadi fondasi penting untuk memperluas kerja sama ekonomi Indonesia dan Inggris, terutama di tengah kebutuhan Indonesia mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

“Dokumen EGP merupakan wujud nyata dari komitmen kedua negara dalam membangun pertumbuhan ekonomi yang inklusif, berkelanjutan, dan saling menguntungkan,” kata Airlangga.

Menurut Airlangga, kemitraan tersebut sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen, yang membutuhkan dukungan perdagangan dan investasi dalam skala besar, khususnya dari sektor swasta dan mitra strategis internasional.

EGP dirancang sebagai kerangka kerja sama yang praktis dan berorientasi pada pelaku usaha. Sejumlah sektor prioritas yang tercakup dalam kemitraan ini antara lain energi bersih, ekonomi digital, keuangan, pendidikan, infrastruktur dan transportasi, pertanian dan pangan, kesehatan dan life sciences, penguatan rantai pasok, serta perdagangan dan pembangunan berkelanjutan.

Pemerintah menilai kerja sama ini dapat membantu kedua negara memanfaatkan potensi ekonomi masing-masing secara optimal di tengah dinamika perekonomian global.

Airlangga juga menegaskan posisi Inggris sebagai salah satu mitra strategis Indonesia di kawasan Eropa. Pada 2024, nilai perdagangan bilateral Indonesia–Inggris tercatat mencapai USD 2,78 miliar dan menunjukkan tren peningkatan sejak 2020 dengan pola perdagangan yang saling melengkapi.

Di sisi investasi, realisasi investasi Inggris di Indonesia tercatat sebesar USD 402,6 juta hingga triwulan III 2025. Investasi tersebut terutama mengalir ke sektor pertambangan, industri pangan, pertanian, serta kawasan industri dan jasa.

Kedua pihak sepakat bahwa kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Inggris menjadi momentum penting dalam memperkuat hubungan strategis Indonesia dan Inggris, sekaligus menandai langkah baru kerja sama ekonomi yang berorientasi ke masa depan.

Sejumlah pejabat turut hadir dalam penandatanganan tersebut, di antaranya Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi Hashim Djojohadikusumo, Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono, Ketua Umum KADIN Indonesia Anindya Bakrie, serta jajaran pejabat pemerintah Indonesia dan Inggris.

Related posts

Travel Haji Ingatkan Menjaga Niat Jamaah, Agar Tidak Menarik Uang Ibadah

natmed

Konservasi Hutan Kaltim Masih Terkendala Finansial dan Kolaborasi Masyarakat

Aminah

Anggaran Bankeu 2026 Berkurang, Pemprov Kaltim Minta Kabupaten dan Kota Maksimalkan PAD

Aminah

Leave a Comment