Samarinda, Natmed.id – BMKG Balikpapan memetakan tiga gelombang hujan lebat yang berpotensi melanda Kalimantan Timur (Kaltim) sepanjang 1–10 Desember 2025, dengan sejumlah wilayah masuk kategori paling rawan bencana hidrometeorologi.
Pemetaan ini disampaikan BMKG Balikpapan dalam FGD terkait kondisi musim hujan dan kewaspadaan bencana di Samarinda, Selasa 2 Desember 2025.
Kepala Stasiun Meteorologi SAMS Sepinggan BMKG Balikpapan Kukuh Ribudiyanto mengatakan intensitas hujan di Kaltim menguat memasuki Desember, meski sebelumnya sempat menurun akibat pengaruh siklon tropis di wilayah tengah.
“Trennya naik, tapi beberapa waktu lalu Kukar dan Kutim justru sempat berkurang hujannya karena efek siklon,” ujarnya.
Menurut Kukuh, curah hujan tinggi masih mendominasi wilayah utara, sementara Balikpapan dan sebagian Paser menunjukkan fluktuasi. Meski begitu, cuaca ekstrem tetap terjadi di sejumlah titik. “Hujan ekstrem kemarin masih menyebabkan genangan, termasuk di Samarinda,” katanya.
BMKG menetapkan tiga fase hujan lebat:
Gelombang 1 (1–3 Desember): Samarinda, Balikpapan, Berau, Kukar, Kutai Barat, Bontang, Paser, PPU, Kutai Timur, dan Mahulu.
Gelombang 2 (4–6 Desember): Kutim, PPU, Berau, Balikpapan, Samarinda, dan Kukar.
Gelombang 3 (7–10 Desember): Paser, Mahulu, Kukar, Samarinda, Balikpapan, Berau, Kutai Barat, Bontang, Kutim, dan PPU.
Kukuh menyebut potensi penguatan La Niña pada 2026 ikut memicu distribusi uap air yang lebih besar di wilayah Indonesia. “La Nina menambah suplai uap air. Musim hujan tahun ini sampai awal tahun depan tetap harus diwaspadai,” jelasnya.
Ia menekankan pentingnya masyarakat memahami karakter wilayah tempat tinggal masing-masing, terutama apakah termasuk zona rawan banjir atau longsor. “BPBD sudah punya peta evakuasi. Itu penting untuk dipahami,” tegasnya.
BMKG memastikan informasi cuaca diperbarui rutin melalui berbagai kanal, mulai dari prakiraan musiman hingga peringatan ekstrem satu hingga tiga jam ke depan. “Kami sampaikan melalui website, media sosial, sampai kolaborasi dengan media lokal,” tambah Kukuh.
