Samarinda

Hilal Kaltim Hampir Tak Pernah Masuk Tahap Penyumpahan

Teks: Pemantauan Rukyatul Hilal Dari Menara Utama Islamic Center Kaltim (Natmed.id/Aminah)

Samarinda, Natmed.id – Letak geografis Kalimantan Timur (Kaltim) yang berada di wilayah timur Indonesia serta kondisi alam daratan menjadi faktor utama hilal hampir tidak pernah terlihat saat rukyatul hilal, sehingga proses penyumpahan saksi jarang dilakukan dalam penetapan awal Ramadan maupun Syawal di daerah ini.

Dalam proses rukyatul hilal, penyumpahan hanya dapat dilakukan apabila terdapat klaim penglihatan hilal yang didukung oleh data astronomis. Jika data menunjukkan hilal mustahil terlihat, maka meskipun ada laporan penglihatan, proses sumpah tidak dapat dilanjutkan.

Hakim Pengadilan Agama Samarinda Muhammad Hasbi menjelaskan bahwa tahapan penyumpahan tidak serta-merta dilakukan, melainkan harus diawali dengan kecocokan data astronomi.

“Kalau masalah penyumpahan, pertama kita berangkat dari data dulu. Kalau datanya memungkinkan melihat bulan dan ada yang mengaku melihat, maka bisa dilakukan isbat dan penyumpahan, meskipun yang melihat hanya satu atau dua orang,” ujarnya saat Penetapan Rukyatul Hilal di Aula Kementerian Agama (Kemenag) Samarinda, Selasa 17 Agustus 2026.

Namun, Hasbi menegaskan, apabila data astronomis menunjukkan hilal tidak mungkin terlihat, maka proses sumpah tidak dilakukan.

“Kalau datanya tidak memungkinkan, maka tidak ada penyumpahan. Permohonan tetap kita terima, tetapi kita nyatakan bulan tidak bisa terlihat,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Kemenag Kota Samarinda Nasrun  menyebutkan bahwa secara pengalaman, hampir tidak pernah ada laporan hilal terlihat di Kaltim.

“Sepengalaman saya, baik di Kutim maupun Kukar, belum pernah ada laporan hilal terlihat di Kaltim. Ini karena posisi kita berada di timur, sementara pengamatan dilakukan ke arah barat saat matahari terbenam,” katanya.

Kondisi geografis Kaltim yang didominasi daratan membuat pandangan ke arah ufuk barat sering terhalang oleh pepohonan, perbukitan, hingga bangunan, ditambah cuaca yang kerap berawan.

“Seringkali terhalang pohon, gunung, dan awan. Hilal itu muncul sangat rendah, sehingga sangat sulit diamati dari wilayah daratan seperti Kaltim,” tambahnya.

Hal tersebut diperkuat oleh penjelasan Kepala Stasiun Meteorologi Kelas III APT Pranoto BMKG Samarinda Riza Arian Noor. Ia mengatakan posisi pengamatan di Kaltim menghadap daratan saat melihat ke arah barat, sehingga tidak ideal untuk rukyatul hilal.

“Kita di wilayah timur dan melihat ke barat itu ke arah daratan, sangat mengganggu pengamatan. Apalagi ketinggian bulan sering hanya sekitar 3 sampai 4 derajat, itu sangat kecil,” jelasnya.

Selain faktor geografis, cuaca juga menjadi kendala utama. Riza menyebut Kalimantan Timur memiliki curah hujan tinggi hampir sepanjang tahun.

“Musim kemarau di Kaltim hanya sekitar tiga bulan. Berbeda dengan wilayah Jawa yang lebih jelas musimnya. Faktor awan dan hujan ini sangat menghambat pengamatan hilal,” katanya.

Terkait perbedaan awal puasa antara Indonesia dan negara lain seperti Arab Saudi, Nasrun menjelaskan hal tersebut dipengaruhi oleh perbedaan letak lintang dan bujur atau dikenal dengan istilah matla’.

“Kata kuncinya, hilal bisa terlihat jika ijtimak terjadi sebelum matahari terbenam. Kalau ijtimak terjadi setelah matahari terbenam, posisi bulan masih di bawah ufuk,” terangnya.

Ia menegaskan bahwa perbedaan wilayah membuat waktu terbenam matahari dan posisi bulan tidak sama.

“Itu sebabnya di Arab bisa puasa lebih dulu, sementara di Indonesia belum. Bukan karena perbedaan aturan, tapi karena perbedaan posisi wilayah,” pungkasnya.

Related posts

Momen Reuni Keluarga di Samarinda, Zahro Ajak Saudara dari Kutai Barat Main ke SCP

Aminah

Sangkulirang – Mangkalihat Potensi Jadi Tanah Bumi 

natmed

Terkena Dampak Covid-19, Heny: Bantuan Sembako Hanya Cukup Beberapa Hari

natmed

Leave a Comment