Ekonomi

Harga Buah di Samarinda Cenderung Stabil di Minggu Pertama Ramadan

Teks: Yatuk Pedagang Buah di Jalan Padat Karya Sempaja (Natmed.id/Sukri)

Samarinda, Natmed.id – Memasuki pekan pertama bulan suci Ramadan 2026, harga sejumlah komoditas buah-buahan di tingkat pedagang eceran Kota Samarinda terpantau relatif stabil.

Meskipun permintaan masyarakat untuk kebutuhan takjil meningkat tajam, kelancaran distribusi dari petani ke pasar induk dinilai menjadi faktor utama terjaganya harga di pasaran.

Kondisi ini terlihat di salah satu titik niaga buah di kawasan Jalan Padat Karya. Yayuk Hariati, pemilik Toko Fajar Buah mengungkapkan bahwa secara umum tidak terjadi gejolak harga yang ekstrem seperti tahun-tahun sebelumnya.

Yayuk menjelaskan bahwa kelancaran stok tahun ini jauh lebih baik dibandingkan periode ramadan tahun lalu. Sebagian besar komoditas yang ia jual dipasok dari Pasar Segiri, sementara untuk buah tertentu seperti semangka, didistribusikan langsung oleh pengepul ke kios-kios eceran.

“Kalau puasa tahun ini harga masih standar, tidak ada yang naik tinggi sekali. Karena barangnya memang ada dan banyak,” ungkapnya kepada Natmed.id, pada Kamis, 19 Februari 2026.

Perbedaan harga semangka dengan tahun lalu ternyata cukup signifikan. Ia menyebutkan bahwa tahun lalu sempat terjadi penurunan produksi semangka, yang menyebabkan harganya menjadi cukup tinggi.

“Beda dengan tahun lalu, waktu itu semangka sempat kosong di pasaran, otomatis harganya melonjak. Kalau sekarang, ketersediaan aman,” tambahnya.

Selain buah lokal, komoditas pelengkap ramadan seperti kurma yang dipasok dari distributor kawasan Jalan Belibis juga dilaporkan memiliki stok yang mencukupi untuk memenuhi kebutuhan warga hingga Idulfitri mendatang.

Meski mayoritas harga stabil, pantauan di lapangan menunjukkan adanya kenaikan pada komoditas spesifik. Buah Naga menjadi satu-satunya barang yang mengalami lonjakan harga cukup signifikan di minggu pertama ini.

Ia menyebutkan harga buah naga sebelumnya berkisar diantara Rp13.000 – Rp14.000 per kilogram, akan tetapi saat ini mengalami kenaikan berkisar di Rp18.000 – Rp20.000 per kilogram.

Yayuk menduga kenaikan harga buah naga tersebut lebih disebabkan oleh faktor di tingkat produsen.

“Itu kayaknya permainan di tingkat petani atau pengepul besar karena mereka tahu peminatnya sedang banyak-banyaknya untuk campuran es buah,” tambahnya dengan sedikit bercanda.

Untuk menyiasati lonjakan pembeli yang terjadi setiap sore, pedagang seperti Yayuk harus melakukan manajemen stok yang lebih ketat. Dalam seminggu, ia melakukan pengisian ulang barang (restock) setidaknya satu kali, atau lebih cepat jika perputaran barang melonjak.

Tantangan lain yang dihadapi pedagang adalah kondisi kematangan buah. Untuk komoditas seperti Alpukat, Yayuk mengakui stok yang masuk masih dalam kondisi mentah dan membutuhkan 2-3 hari untuk matang sempurna. Sehingga ia harus memberikan edukasi kepada pembeli agar tidak salah pilih.

Toko Fajar Buah sendiri beroperasi mulai pukul 08.00 hingga 22.00 WITA guna mengakomodasi kebutuhan warga yang sering kali mencari buah segar di malam hari setelah Salat Tarawih. Yayuk berharap ritme distribusi yang lancar ini dapat bertahan hingga akhir bulan suci.

“Harapan kami sebagai pedagang kecil ya barangnya jangan sampai kosong dari pusat. Kalau stok aman, kami bisa jual dengan harga wajar, pembeli juga tetap ramai,” pungkas Yayuk.

Related posts

Awal Pekan Buruk Bagi Petani, TBS Sawit Kaltim Turun di Akhir November

Aminah

Tak Ada Pasar Ramadan, Puasa Tahun Ini Terasa Berbeda

natmed

KADIN Samarinda Diharapkan Dapat Membantu Pemulihan Ekonomi

natmed

Leave a Comment