Samarinda, Natmed.id – Erma Handayani atau sering disapa Embi sudah mengikuti sejarah perkembangan Formula 1 (F1) dari tahun 1980-an. Ia mengedukasi dan menceritakan sejarah F1 melalui media sosial TikTok anaknya dengan username Mrs. Ferrari.

Kami bertemu pada Sabtu, 13 Desember 2025 di rumahnya. Ia menyebutkan mulai fokus mengikuti perkembangan F1 saat kemunculan seorang pembalap legendaris bernama Ayrton Senna pada tahun 1984.
“Saat kemunculan Ayrton Senna pada tahun 1984 itu baru Embi mulai antusias mempelajari F1 itu seperti apa sampai sekarang,” ungkapnya.
Formula 1 (F1) merupakan olahraga balapan mobil yang secara resmi di gelar pada tahun 1950 dan terus berlanjut dengan perubahan regulasi yang mengikuti perkembangan teknologi saat ini.
Kemudian Ia juga menceritakan asal usul nama anak perempuannya yang memiliki unsur salah satu tim F1 yang masih ada sampai sekarang yaitu Ferrari. Saat itu suaminya sangat menggemari salah satu tim legendaris di F1 yaitu Williams Renault. Jika anaknya laki-laki maka akan dinamai Williams, tetapi karena yang lahir adalah perempuan maka dinamai Febi Ferrari yang sekarang dikenal sebagai Mrs. Ferrari.
“Kalau dia laki-laki dinamai William, tapi berhubung udah lahir perempuan kan, yaudah Ferrari aja, dasarnya emang sama-sama suka F1 juga,” jelasnya.
Kemudian Ia menyebutkan dahulu sangat sulit jika ingin menonton balapan ini secara langsung (live). Sehingga Ia hanya menonton di TVRI yang menyajikan highlight race pada hari itu yang berdurasi 1 jam.
“Jadi dulu itu sangat sulit jika ingin menonton F1 secara live, channel tv di Indonesia yang menyajikan F1 itu cuma TVRI itupun cuma highlight race-nya, pada saat itu highlight 1 jam jadi rasanya seperti nonton race secara penuh tapi tertunda,” ujarnya.
Selain menonton highlight, Ia melihat update perkembangan F1 juga melalui surat kabar atau koran. Ia menyebutkan koran memiliki informasi yang lebih lengkap seputar race secara keseluruhan, sehingga informasi yang Ia baca bisa dimengerti sambil menonton highlight yang ada di TVRI pada saat itu.
“Walapun di TVRI ada highlight, biasanya media kayak koran sudah beritakan, biasanya habis race itu ulasannya lengkap. Jadi saat nonton highlight sudah paham karena sudah dapat informasinya dari koran,” tambahnya.
Tahun demi tahun berlalu, stasiun-stasiun TV mulai menyiarkan olahraga tersebut secara bergantian, setelah itu mulai disiarkan di platform berbayar hingga saat ini.
Dengan ilmu yang dimiliki, Ia mulai membuat konten dan mengedukasi serta menceritakan sejarah perkembangan F1 dahulu sampai saat ini menggunakan media sosial TikTok.

Melalui platform tersebut, Ia menjawab pertanyaan-pertanyaan netizen seputar F1 dengan detail dan enak ditonton. Akun dengan pengikut hampir 20 ribu itu terus mengedukasi netizen yang ingin mengetahui sejarah Formula 1 dan perbedaan regulasi dulu dengan sekarang.
Embi menyajikan konten dengan sangat unik dan edukatif. Ia menggambar sirkuit F1 disertai cerita sejarah sehingga netizen yang menonton bisa mendapat informasi secara detail melalui media edukasi yang dibuat olehnya.
Menurutnya jika menjelaskan dengan cara menulis dan menggambar dapat membuat penjelasannya lebih dimengerti serta informasi yang dibagikan dapat dicerna dengan baik oleh penonton dan penggemarnya.
“Embi lebih suka kalau menjelaskan begini walaupun ribet yaa tapi kalau sambil nulis Embi lebih enak jelasinnya,” tutupnya.
