Samarinda, Natmed.id – Berdiri kokoh sejak akhir abad ke-19, Masjid Shiratal Mustaqiem bukan sekadar bangunan ibadah tertua di Kota Samarinda. Masjid yang dibangun pada 1881 ini menyimpan kisah tentang empat tiang utama saka guru yang hingga kini masih menopang bangunan utama, seolah menantang usia dan zaman.

Keempat saka guru itu terbuat dari kayu ulin, material khas Kalimantan yang dikenal memiliki ketahanan luar biasa terhadap cuaca, air, dan usia.
Secara fisik, tiang-tiang tersebut masih tampak utuh, dengan serat kayu yang padat dan warna alami yang menghitam dimakan waktu. Namun di balik kekokohan materialnya, masyarakat juga meyakini adanya nilai spiritual yang menyertai pendirian saka guru tersebut.
Sekretaris Pengurus Masjid Shiratal Mustaqiem Ishak Ismail menjelaskan bahwa masjid ini didirikan oleh seorang ulama keturunan Arab Hadramaut bernama Sayyid Abdurrahman Assegaf, yang juga dikenal dengan nama Said Abdurrahman bin Alaydrus.
“Beliau adalah seorang habib, masih memiliki garis keturunan Nabi Muhammad SAW. Awalnya beliau berdakwah di Pontianak, kemudian hijrah ke Samarinda sekitar tahun 1880 dan mulai membangun masjid ini setahun setelahnya,” ujar Ishak.
Pendirian masjid diawali dengan pemasangan empat saka guru sebagai penyangga utama bangunan. Keempat tiang itu tidak hanya berfungsi struktural, tetapi juga menjadi simbol awal perubahan sosial di kawasan Samarinda Seberang yang saat itu dikenal sebagai daerah dengan praktik maksiat.
“Empat tiang utama ini disumbangkan oleh empat tokoh berbeda. Ada Kapitan Jaya, Pettaloncong, Lusulunna dan satu tiang dari Sayyid Abdurrahman sendiri. Proses pendiriannya dilakukan secara gotong royong oleh warga,” katanya.
Dari sisi arsitektur, Masjid Shiratal Mustaqiem mencerminkan perpaduan gaya lokal Kalimantan, Bugis, dan pengaruh Timur Tengah. Hal itu tampak dari struktur bangunan panggung, ukiran kayu pada dinding dan pintu, serta menara masjid yang berdiri terpisah dan menjadi ikon visual kawasan Samarinda Seberang.
Perawatan kayu ulin saka guru, kata Ishak, dilakukan secara tradisional tanpa bahan kimia berat. Pengurus masjid hanya membersihkan secara berkala dan menjaga sirkulasi udara agar kelembapan tidak merusak struktur kayu.
“Kami tidak mengganti kayu itu. Masih asli sejak awal. Perawatannya alami saja, karena kayu ulin memang terkenal sangat kuat,” jelasnya.
Sementara itu, Chella, pengunjung asal Loa Janan, mengatakan suasana di dalam Masjid Shiratal Mustaqiem terasa khusyuk dan menenangkan, terutama saat waktu berbuka puasa.
“Saya sempat ikut salat dan berbuka di sini. Suasananya tenang sekali, terasa hangat dan penuh kebersamaan. Setelah itu kami makan bubur peca bersama, rasanya sederhana tapi berkesan karena dinikmati di masjid tua dengan sejarah panjang,” ujarnya.
Hingga kini, Masjid Shiratal Mustaqiem tetap dimakmurkan. Selain menjadi pusat ibadah, masjid ini juga menjadi ruang sosial dan budaya, terutama saat Ramadan, ketika berbagai tradisi lama seperti pembagian bubur peca kembali dihidupkan.
Lebih dari sekadar bangunan tua, empat saka guru Masjid Shiratal Mustaqiem menjadi penanda bahwa dakwah Islam di Samarinda tidak hanya dibangun dengan kata-kata, tetapi juga dengan keteladanan, kesabaran dan fondasi yang kokoh baik secara fisik maupun spiritual.
