Samarinda, Natmed.id – Geliat ekonomi di bulan suci Ramadan 1447 H mulai dirasakan nyata oleh para pelaku jasa transportasi daring di Kota Tepian. Masyarakat yang lebih memilih memesan makanan dari rumah menciptakan lonjakan permintaan yang signifikan, memberikan napas lega bagi para pengemudi ojek online (ojol) di tengah rutinitas harian mereka.
Salah satu yang merasakan dampak positif ini adalah Abdillah, seorang driver ojol yang setiap harinya membagi waktu antara bangku kuliah dan aspal jalanan.
Menurutnya, transisi dari hari biasa ke bulan puasa membawa perubahan ritme kerja yang drastis, terutama pada jam-jam krusial menjelang waktu berbuka.
Abdillah menceritakan bahwa di hari-hari biasa, mendapatkan 12 hingga 13 pesanan per hari sudah dianggap cukup untuk menutupi kebutuhan.
Namun, memasuki hari pertama Ramadan, pola konsumsi masyarakat berubah total. Banyak warga yang enggan keluar rumah karena kondisi fisik saat berpuasa atau sekadar ingin menghindari kemacetan menjelang Magrib.
“Beda banget sama hari biasanya. Apalagi menjelang buka puasa, itu kan orang-orang pada nyari makanan dan takjil. Ada orang-orang yang bisa dibilang mager keluar atau malas keluar, di situlah banyak orderan masuk,” ungkap Abdillah saat ditemui di sela-sela aktivitasnya, Kamis 19 Februari 2026.
Meski berstatus mahasiswa, Abdillah tetap konsisten menjalankan profesinya. Jika biasanya ia mulai membuka aplikasi (open bid) setelah pulang kuliah sekitar pukul 13.00 atau 14.00 Wita dan bekerja hingga pukul 22.00 Wita, di bulan Ramadan ini ia lebih memfokuskan energinya pada sore hari.
Hasilnya pun cukup memuaskan, jika di hari biasa ia rata-rata mengantongi Rp150.000, di hari pertama puasa ini ia berhasil menembus angka Rp200.000, dan masi melanjutkannya hingga malam.
“Sejauh ini dapat sekitar 200 ribu seperti itu. Kayaknya memang berkah bulan Ramadan,” tambahnya dengan nada syukur.
Namun, di balik kegembiraan akan limpahan rezeki ini, terselip kekhawatiran yang menjadi momok bagi setiap driver ojol, yaitu pesanan fiktif.
Abdillah menekankan bahwa tindakan iseng oknum masyarakat yang memesan makanan namun tidak bertanggung jawab saat pengantaran sangat memukul kondisi finansial driver.
Ia menjelaskan bahwa kerugian yang dialami bukan hanya soal uang modal yang hilang, tetapi juga reputasi akun di aplikasi.
“Intinya sih jangan sampai ada orderan fiktif saja. Mungkin buat masyarakat jangan iseng, karena kasihan driver-nya. Itu sangat merugikan, karena kadang akun bisa kena suspend beberapa hari sehingga tidak bisa narik lagi. Padahal bisa jadi penghasilannya cuma dari situ saja,” tegasnya.
Melalui momen Ramadan ini, Abdillah mewakili rekan-rekan driver lainnya berharap agar sistem pengamanan aplikasi semakin baik dalam memitigasi pesanan palsu.
Ia juga berharap masyarakat semakin bijak dalam menggunakan aplikasi layanan antar makanan, mengingat para driver rela menunda waktu berbuka bersama keluarga demi mengantarkan pesanan pelanggan tepat waktu.
Tren peningkatan orderan ini diperkirakan akan mencapai puncaknya pada pertengahan Ramadan hingga menjelang Idulfitri, seiring dengan meningkatnya intensitas kegiatan buka puasa bersama di berbagai titik di Samarinda.
