Samarinda, Natmed.id – Di sela padatnya Gerakan Pangan Murah (GPM) yang digelar Dinas Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura (DPTPH) Kaltim, Rabu 10 Desember 2025, Fitri Yani (43) tampak sibuk melayani pembeli.

Perempuan asal Giri Rejo, Lempake, Kecamatan Samarinda Utara itu sudah delapan tahun menggantungkan hidup dari usaha rumahan bernama Amplang Dadang. Ia berdiri sendiri, tanpa karyawan, hanya dibantu suami dan anak.
Fitri adalah UMKM binaan Dinas Kelautan dan Perikanan Kaltim. Usahanya sederhana, namun jaringannya tak bisa dianggap remeh. Walau pemasaran baru berputar di Samarinda, amplangnya kerap dibawa pemesan hingga ke Malaysia dan Medan.
“Kalau orang pesan itu sering dibawa ke luar kota. Yang paling banyak itu ke Medan sampai lima kilo. Kadang ada juga yang bawa ke Malaysia,” ujarnya.
Fitri memulai usahanya bukan dengan langsung berjualan, melainkan belajar. Setahun pertama ia habiskan mengikuti pelatihan demi pelatihan, memahami cara produksi, pemasaran, hingga standar keamanan pangan. Ia menyebut tahun itu sebagai masa “sekolah”.
“Selama satu tahun awal saya selalu sekolah. Pelatihan terus, belajar gimana jualan yang benar. Setelah setahun itu baru mulai ramai,” katanya.
Kini, usahanya berjalan mantap. Dalam sehari ia mampu memproduksi minimal 5 hingga 10 kilogram amplang. Keuntungan bersih yang ia terima sekitar Rp200 ribu per hari. “Minim-minimnya lima sampai sepuluh kilo sehari, untung dua ratus lah, itu sudah bersih untuk saya,” ucapnya.
Legalitas pun ia benahi sedikit demi sedikit. Fitri sudah memiliki P-IRT, NIB, dan sertifikat halal. Hanya yang belum merek dagang resmi. “HAKI belum, kalau ada ya mau, cuma belum sempat mengajukan,” katanya.
Amplang Dadang hanya memiliki satu varian yaitu original. Ia sengaja tidak menambah variasi karena khawatir tak mampu mengimbangi produksi dengan tenaga yang terbatas.
“Belum ada karyawan, jadi saya pilih yang original saja. Takutnya kalau banyak varian saya enggak sanggup produksi,” jelasnya.
Selama delapan tahun berjalan, pelanggannya datang dari berbagai tempat. Ada yang membeli untuk oleh-oleh, ada yang memesan rutin, termasuk pelanggan rutin Dinas Kehutanan.
“Dulu Dinas Kehutanan rutin ambil sampai Rp900 ribu per bulan. Sekarang masih, tapi kebanyakan pribadi-pribadi,” ujarnya.
Di gelaran GPM tahun ini, ia kembali merasakan dampak positif dari kegiatan yang mempertemukannya langsung dengan masyarakat. Meski tampak sederhana, Amplang Dadang adalah bukti bahwa UMKM rumahan bisa tumbuh dari ketekunan, bimbingan dan keberanian untuk terus belajar.
