Samarinda, Natmed.id – Wali Kota Samarinda Andi Harun menyampaikan kegelisahan mendalam terkait masa depan ketahanan pangan di Kalimantan Timur.
Di hadapan ratusan mahasiswa pada Milad Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Jumat malam 3 April 2026, Andi Harun mengingatkan bahwa kejayaan ekonomi Kaltim yang selama ini ditopang oleh sektor pertambangan hanyalah semu jika tidak dibarengi dengan kemandirian di sektor urusan perut rakyat.
Kaltim selama ini dipandang sebagai provinsi kaya, namun Andi Harun membedah realitas pahit di balik angka-angka pertumbuhan ekonomi tersebut.
Faktanya, Kalimantan Timur saat ini berada dalam kondisi yang sangat rentan karena pasokan pangan utama bukan berasal dari tanah sendiri.
“Kita harus jujur melihat data. Lebih dari 80 persen kebutuhan pangan kita itu dipasok dari luar Kalimantan Timur. Kita bergantung pada kapal-kapal dari Sulawesi, kita berharap pada kiriman dari Jawa Timur,” kritik Andi Harun.
Ketergantungan ini, menurutnya, adalah ancaman laten. Jika terjadi gangguan pada jalur logistik laut atau terjadi gagal panen di daerah pemasok, maka stabilitas harga dan ketersediaan pangan di Kaltim akan langsung lumpuh.
Selain itu, Andi Harun secara spesifik menyoroti ketimpangan fokus antara sektor pertambangan yang masif dengan sektor pertanian yang justru terpinggirkan.
Ia mengingatkan bahwa sumber daya alam seperti batu bara memiliki batas waktu dan tidak bisa menjadi penopang hidup dalam situasi krisis global.
“Kita selama ini terlalu asyik dengan batu bara, terlalu bangga dengan emas hitam. Tapi bapak-ibu dan rekan-rekan sekalian harus ingat satu hal yang pasti, kita tidak bisa makan batu bara! Saat krisis pangan melanda dunia karena perubahan iklim, tumpukan batu bara setinggi gunung pun tidak ada gunanya bagi perut rakyat yang lapar,” tegasnya.
Pernyataan ini merupakan ajakan bagi para pengambil kebijakan dan masyarakat untuk mulai beralih dari pola pikir ekstraktif menuju ekonomi hijau yang berkelanjutan, khususnya di bidang agrikultur dan pangan.
Isu ketahanan pangan ini semakin mendesak untuk dibahas seiring dengan masifnya pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur.
Lonjakan jumlah penduduk yang akan masuk ke wilayah ini menuntut kesiapan lumbung pangan lokal yang jauh lebih kuat dari sekarang.
“Perubahan iklim itu bukan sekadar teori, climate change sedang terjadi di depan mata kita. El Nino dan cuaca yang tidak menentu bisa membuat daerah pemasok pangan kita menghentikan ekspornya ke sini karena mereka harus menyelamatkan rakyatnya sendiri dulu. Jika itu terjadi, kita di sini mau makan apa?” tambahnya.
Andi Harun menantang para intelektual muda, khususnya kader IMM, untuk tidak hanya menjadi penonton, tetapi menjadi aktor dalam menciptakan inovasi di bidang pangan.
“Jangan sampai kita jadi penonton di rumah sendiri. Kita punya tanah yang luas, tapi kita malas menanam. Kita harus mulai mandiri, memperkuat petani kita, dan memastikan bahwa dari bumi Etam ini lahir peradaban yang bukan hanya cerdas secara intelektual, tapi juga berdaulat secara pangan,” pungkasnya.
