Pendidikan

Andi Harun: Kader IMM Harus Jadi Arsitek Perubahan Melalui Tiga Pilar Keunggulan

Teks: Wali Kota Samarinda, Andi Harun Saat Diwawancara Awak Media Usai Kegiatan Pada Jumat,3/4/26 (Natmed.id/Sukri)

Samarinda, Natmed.id – Wali Kota Samarinda, Andi Harun menegaskan bahwa mahasiswa tidak boleh hanya menjadi penonton perubahan, melainkan harus menjadi aktor intelektual yang memiliki dampak sosial nyata.

Andi Harun menekankan bahwa untuk menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks, kader IMM wajib memegang teguh tiga pilar utama organisasi sebagai kompas gerakan.

Dalam penyampaiannya, Andi Harun menguraikan bahwa keunggulan intelektual tanpa integritas moral hanyalah sebuah instrumen yang hampa.

Begitu pula sebaliknya, niat baik tanpa kompetensi akademik tidak akan mampu menyelesaikan persoalan di masyarakat secara sistematis.

“Pilar pertama adalah academic excellence. Kader IMM tidak boleh puas hanya dengan nilai di atas kertas, kalian harus benar-benar memiliki keunggulan secara akademik dan intelektual untuk menjawab tantangan zaman,” ujar Andi Harun saat diwawancara awak media pada Jumat malam,  April 2026.

Ia kemudian melanjutkan pada pilar kedua yang menjadi fondasi karakter.

“Kedua adalah moral integrity. Di tengah krisis keteladanan, kader harus menjunjung tinggi nilai-nilai etika dan spiritualitas dalam setiap langkah berorganisasi. Moralitas adalah pembeda antara aktivis sejati dan mereka yang sekadar mencari panggung,” tegasnya.

Pilar terakhir, menurutnya adalah muara dari segala aktivitas organisasi.

“Ketiga adalah social impact. Kehadiran IMM harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Keberadaan kalian harus dirasakan di bidang sosial, ekonomi, maupun budaya. Organisasi ini harus menjadi jawaban atas keluh kesah rakyat,” imbuhnya.

Andi Harun juga membedah proses transformasi seorang kader agar tidak terjebak dalam menara gading intelektualitas. Ia mengingatkan bahwa ilmu yang dipelajari di bangku kuliah harus bertransformasi menjadi energi penggerak sosial.

“Pengetahuan yang kalian dapatkan di kampus harus melahirkan kesadaran. Dari kesadaran itu, akan tumbuh kepekaan terhadap realitas di sekitar kita. Dan pada akhirnya, kepekaan itulah yang harus melahirkan aksi nyata bagi masyarakat,” tambah Andi Harun.

Ia kemudian menyitir nasihat bijak dari ulama terkemuka, Hasan Al-Bashri, untuk memberikan tamparan bagi mereka yang hanya berteori tanpa bukti.

“Ia pernah berkata bahwa iman itu bukan sekadar diam atau angan-angan semata. Iman adalah apa yang tertanam kokoh di dalam hati dan dibuktikan dengan amal saleh. Dalam konteks gerakan mahasiswa, amal saleh itu adalah aksi perubahan sosial yang konsisten,” jelasnya.

Andi Harun mengajak seluruh kader IMM untuk memperluas cakrawala berpikir dan merangkul semua elemen bangsa. Menurutnya, masa depan Kalimantan Timur, terutama dengan hadirnya Ibu Kota Nusantara (IKN), membutuhkan kolaborasi lintas identitas.

“Membangun peradaban yang besar di Kalimantan Timur ini memerlukan gerakan yang inklusif. Kita tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Kita harus mampu melepaskan sekat-sekat perbedaan, baik itu agama, suku, maupun latar belakang budaya, demi satu tujuan, kepentingan bersama dan kemajuan daerah,” pungkas Andi Harun.

Ia berharap IMM terus menjadi laboratorium kepemimpinan yang melahirkan tokoh-tokoh besar yang tidak hanya cerdas secara otak, tetapi juga lembut secara hati dan cekatan dalam bekerja untuk rakyat.

Related posts

UNU Pasuruan Gelar Wisuda, Bupati Dorong Lulusan Kembangkan Ilmu di Masyarakat

Sahal

Sambut Era IKN, SMA Negeri 14 Samarinda Luncurkan Ekskul Jurnalistik

ericka

Mantan Wagub Kaltim Hadi Mulyadi Dukung Transformasi IKIP PGRI jadi Universitas

Intan