Samarinda, Natmed.id – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Samarinda memberi peringatan serius terkait fenomena iklim ekstrem yang mulai melanda Ibu Kota Kalimantan Timur.
Fenomena yang dijuluki sebagai “El Nino Godzilla” ini diprediksi akan membawa dampak kekeringan yang lebih parah dan durasi musim kemarau yang jauh lebih panjang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kota Samarinda, Edi Susanto menekankan bahwa istilah Godzilla mencerminkan kekuatan anomali suhu yang terjadi di Samudra Pasifik, yang secara langsung memengaruhi stabilitas cuaca di daerah.
BPBD tidak ingin kecolongan dalam menghadapi risiko kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) serta krisis air bersih yang menghantui warga. Edi menjelaskan bahwa pihaknya telah melakukan pemetaan risiko berdasarkan data historis dan kajian ilmiah.
“Fenomena El Nino kan istilah sekarang itu El Nino Godzilla, itu karena ada pemanasan suhu yang lebih tinggi di Samudra Pasifik. Itu menyebabkan kemarau tahun ini lebih panjang daripada tahun-tahun sebelumnya,” ujar Edi Susanto saat ditemui pada Minggu, 5 April 2026.
Menghadapi tantangan ini
Edi memastikan bahwa seluruh kekuatan personel dan peralatan logistik telah berada dalam posisi siaga tempur. Strategi mitigasi telah dijalankan sejak dini untuk meminimalisir dampak kerugian.
“BPBD sudah melakukan langkah-langkah mitigasi, yaitu salah satunya dengan menyebarluaskan informasi terkait musim kemarau yang akan lebih panjang pada tahun ini kepada masyarakat. Kami ingin warga benar-benar siap dan waspada,” tambahnya.
Salah satu poin krusial dalam penanganan bencana di Samarinda adalah kecepatan respons. Edi menegaskan bahwa BPBD memiliki tim khusus yang tidak mengenal waktu libur demi memastikan keselamatan warga.
“Kami di BPBD Kota Samarinda punya tim TRC (Tim Reaksi Cepat) dan tim PBW, yang bertugas 24 jam dalam menanggapi apabila ada laporan masuk dari masyarakat. Mereka bertugas 24 jam sehari, 7 hari dalam seminggu, dan tidak ada hari libur. Semua demi pelayanan publik,” tegas Edi.
Sistem piket dan pemantauan titik panas (hotspot) juga terus diperbarui setiap saat melalui koordinasi dengan instansi terkait dan satelit pemantau cuaca.
Musim kemarau yang sangat kering membuat lahan di pinggiran kota Samarinda menjadi sangat mudah terbakar (flammable). Edi memberikan imbauan keras kepada para pemilik lahan dan petani agar menghentikan kebiasaan lama membuka lahan dengan api.
“Kami mengimbau agar tidak melakukan pembukaan lahan dengan membakar. Pembukaan lahan dengan membakar harus bisa dilaksanakan dengan terkendali, jangan sampai tidak terkendali,” serunya.
Selain risiko api, ia juga menyoroti masalah kesehatan warga yang harus beraktivitas di bawah terik matahari yang menyengat.
“Kami menyampaikan agar masyarakat itu lebih bijak dalam menggunakan air, lebih hati-hati dalam keluar dari rumah, jangan terlalu lama untuk terpapar panas, karena memang panasnya cukup tinggi di kemarau tahun ini. Dehidrasi dan serangan panas (heatstroke) adalah ancaman nyata,” kata Edi.
Penanggulangan bencana di Samarinda diakui Edi tidak bisa dilakukan secara tunggal. Perlu ada kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan kelompok relawan masyarakat yang selama ini menjadi ujung tombak di lapangan.
“Kami sudah berkoordinasi, berkomunikasi, dan memang sudah lama kami laksanakan itu dengan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkar). Kami juga berkoordinasi dengan relawan-relawan yang ada di Kota Samarinda, termasuk relawan Destana (Desa Tangguh Bencana) dan Katana (Keluarga Tangguh Bencana) yang memang binaan kami,” jelasnya.
Untuk memudahkan pelaporan, BPBD Samarinda mengintegrasikan sistem informasi dengan layanan darurat terpadu.
“Silakan kontak ke 112 juga bisa. Nanti dari operator 112 akan meneruskan ke nomor Pusdalops (Pusat Pengendalian Operasi). Selain itu, kami punya hotline khusus di nomor 0811-5537-007. Masyarakat jangan ragu untuk melapor jika melihat asap atau titik api sekecil apa pun,” tutup Edi.
Dengan kesiapan ini, diharapkan dampak dari El Nino Godzilla di Samarinda dapat ditekan seminimal mungkin, meski kerja sama aktif dari masyarakat tetap menjadi kunci utama keberhasilan mitigasi bencana.
