Samarinda, Natmed.id — Koordinator Terminal Bus Sungai Kunjang dari Dinas Perhubungan Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) Eko Novianto menyebut keterbatasan akses transportasi menuju terminal menjadi salah satu faktor utama rendahnya jumlah penumpang di Terminal Sungai Kunjang.

Eko mengatakan hingga kini belum tersedia angkutan umum penghubung dari kawasan sekitar menuju terminal. Penumpang yang ingin masuk ke terminal harus menggunakan kendaraan pribadi atau transportasi daring.
“Kalau dari seberang ke sini tidak ada angkutan umum. Penumpang harus naik ojek online,” ujarnya, Senin 16 Februari 2026.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat masyarakat memilih menunggu bus di luar terminal yang dinilai lebih praktis. Terlebih bus antarkota tetap melintas di jalur luar terminal.
Selain persoalan akses, Eko menilai banyaknya alternatif moda transportasi menuju Balikpapan turut memengaruhi tingkat keterisian terminal. Masyarakat bisa menggunakan kendaraan pribadi, travel, maupun bus kecil.
Terkait tarif, selisih harga bus ber-AC dan non-AC hanya Rp5 ribu. Bus ber-AC dikenakan tarif Rp55 ribu, sedangkan bus non-AC Rp45 ribu. Ia juga menyebut rute Balikpapan masih menjadi trayek paling ramai per hari. Namun, sebagian besar armada tidak selalu berangkat penuh.
“Kalau penumpang ada, bus berangkat. Kalau tidak, mereka menunggu,” katanya.
Eko menambahkan, lonjakan penumpang biasanya hanya terjadi menjelang hari besar keagamaan seperti Lebaran atau libur panjang, namun tetap tidak signifikan.
Sejak pengelolaannya berada di bawah Pemerintah Provinsi Kaltim, Terminal Sungai Kunjang masih berupaya mempertahankan pelayanan di tengah minimnya penumpang.
“Pelayanan tetap berjalan meski kondisinya seperti ini,” pungkasnya.
