Samarinda, Natmed.id – Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) Kalimantan Timur (Kaltim), Noryani Sorayalita menegaskan komitmennya untuk memastikan perempuan di Kaltim mendapat akses yang sama terhadap pendidikan, ekonomi, hingga kepemimpinan.
Pemerintah daerah telah menyiapkan berbagai program yang mendukung peningkatan kapasitas perempuan, termasuk melalui kebijakan Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud dengan program Gratispol dan Jospol.
Menurutnya, akses pendidikan dan pemberdayaan tidak lagi memandang latar belakang sosial maupun ekonomi. “Tidak ada diskriminasi dalam penerima manfaat pembangunan,” ujarnya usai Ziarah Peringatan Hari Ibu ke-97 di Taman Makam Pahlawan Kesuma Bangsa Samarinda, Kamis 11 Desember 2025.
Ia menilai prinsip itu menjadi bukti bahwa perempuan Kaltim memiliki ruang yang sama untuk berkembang dan berkontribusi. Selain pendidikan, DP3A terus mengawal pemenuhan hak perempuan di sektor ekonomi, politik, sosial, dan budaya.
Noryani menjelaskan, pemberdayaan perempuan harus berlangsung secara menyeluruh, tidak berhenti pada pelatihan, tetapi juga memastikan bahwa perempuan dapat mengakses peluang ekonomi dan ruang kepemimpinan.
Ia menyebutkan bahwa dinas berperan memastikan setiap perempuan mendapatkan hak yang sudah diatur dalam berbagai ketentuan nasional. “Kami selalu berupaya memberikan hak-hak perempuan dan anak sebagaimana yang sudah diatur. Pengawalan ini bagian dari tugas kami,” kata Noryani.
Selain itu, DPPPA juga memastikan bahwa pembangunan yang berlangsung di Kaltim tidak mengabaikan kelompok perempuan dan anak. Menurutnya, inklusivitas menjadi prinsip penting untuk menyiapkan fondasi Indonesia Emas 2045.
Peringatan Hari Ibu tahun ini mengusung tema “Perempuan Berdaya dan Berkarya Menuju Indonesia Emas 2045”. Noryani menilai tema tersebut selaras dengan arah kebijakan di Kaltim yang berfokus pada peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Ia menyatakan, perempuan yang berdaya memiliki dampak langsung pada kualitas keluarga, khususnya anak. Karena itu, DPPPA memposisikan pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak sebagai dua aspek yang harus berjalan beriringan.
Noryani berharap rangkaian peringatan Hari Ibu tidak hanya menjadi agenda tahunan, tetapi memperkuat perhatian terhadap isu kesetaraan dan perlindungan di Kaltim. Bahwa pembangunan daerah hanya dapat berjalan optimal bila perempuan diberi ruang yang sama untuk tumbuh, bekerja, dan mengambil peran.
