Pasuruan, Natmed.id – Menjelang azan magrib, warung sederhana di Jalan Raya Kraton, Kelurahan Karangketug, Kecamatan Gadingrejo, Kota Pasuruan mulai dipadati pembeli yang mencari es campur Saparuwa untuk berbuka puasa.
Bangunan rumah lawas yang menjadi tempat berjualan itu tampak bersahaja dari luar. Namun setiap Ramadan, antrean warga terlihat memanjang menunggu giliran mendapatkan segelas minuman dingin tersebut.
Es Saparuwa ada sejak 47 tahun lalu dan kini dikelola generasi kedua. Minuman ini dikenal karena manisan nanas berwarna cokelat yang menjadi pembeda dari es campur pada umumnya.
“Yang khas memang manisan nanasnya. Banyak orang mengira itu kurma, padahal bukan,” kata Kholifah (36), pemilik warung.
Ia menuturkan resep keluarga tetap dipertahankan, termasuk penggunaan gula asli tanpa campuran pemanis buatan. Takaran bahan disebut mengikuti ajaran orang tuanya sejak awal merintis usaha.
Dalam satu gelas, pembeli mendapat campuran manisan nanas, kelapa muda, cincau hitam, kolang-kaling, alpukat, serta jelly hijau. Harga per porsi Rp10.000, sedangkan kemasan bungkus Rp15.000 dengan isi lebih banyak.
Permintaan meningkat selama bulan puasa. Kholifah menyebut pesanan datang dari pondok pesantren dan masjid untuk kebutuhan takjil berbuka.
“Kalau Ramadan, sehari bisa terjual hingga sekitar seribu bungkus,” ujarnya.
Sugeng, pelanggan lama, mengaku sudah mengenal minuman itu sejak remaja. Ia mengatakan rasa es Saparuwa tetap sama dari waktu ke waktu dan menjadi pilihan keluarga saat berbuka.
