Samarinda

Sejarah Bubur Peca Warisan Lebih Seabad di Samarinda Seberang

Teks: Suasana Koridor Masjid Shiratal Mustaqiem Samarinda Seberang Menjelang Waktu Berbuka Puasa,Sabtu,21/2/26 (Natmed.id/Aminah)

Samarinda, Natmed.id – Tradisi memasak bubur peca setiap bulan Ramadan telah menjadi denyut kehidupan Masjid Shiratal Mustaqiem, Samarinda Seberang, selama lebih dari satu abad.

Teks: Proses Penyajian Bubur Peca Dilakukan Secara Gotong Royong,Sabtu,21/2/26 (Natmed.id/Aminah)

Hidangan berbuka puasa khas masyarakat Bugis ini bukan sekadar makanan, melainkan simbol gotong royong, kesabaran dan kesinambungan nilai lintas generasi.

Jejak awal bubur peca bermula dari keluarga Haji Salmah, istri dari Haji Sanudin atau Guru Sanudin, imam Masjid Shiratal Mustaqiem pada masa awal berdirinya masjid.

Pada mulanya, bubur peca dimasak dalam jumlah sangat terbatas, hanya sekitar dua hingga lima kilogram beras. Seiring waktu, tradisi ini terus berlanjut dan berkembang, berpindah dari dapur keluarga ke dapur masjid, lalu diwariskan secara turun-temurun.

Kini, estafet tradisi tersebut berada di tangan Mardiana, atau akrab disapa Tante Alus, juru masak generasi keempat bubur peca. Selama lebih dari 20 tahun, perempuan berusia 60 tahun ini menjadi ketua dapur, mengatur proses memasak hingga pendistribusian bubur kepada jemaah dan warga.

“Ini bukan sekadar masak. Ini amanah dari orang-orang terdahulu,” ujar Tante Alus Sabtu 21 Februari 2026.

Ia mengaku pertama kali terlibat sejak mengikuti ibunya, yang sebelumnya meneruskan tradisi dari nenek mereka. “Kalau saya berhenti, harus ada yang lanjut. Makanya anak-anak remaja saya ajari semua,” tambahnya.

Bubur peca dimasak sejak pagi, prosesnya memakan waktu berjam-jam karena setiap tahap harus dilakukan dengan cermat. Kelapa diperas terlebih dahulu untuk santan, bumbu ditakar satu per satu, dan ayam direbus hingga matang sebelum disuwir.

“Bumbunya tidak boleh asal. Semua harus ditakar. Kalau tidak, rasanya bisa berubah,” jelas Tante Alus.

Bahan utama bubur peca terdiri dari beras, santan kelapa, dan ayam, dengan bumbu rempah seperti bawang merah, bawang putih, jahe, kunyit, kayu manis, dan pala. Bubur dimasak menggunakan tungku kayu, bukan kompor gas. Menurut Tante Alus, penggunaan kayu bakar adalah kunci rasa.

“Kalau pakai kompor, rasanya beda. Buburnya cair dan tidak keluar aromanya,” katanya.

Setiap hari Ramadan, dapur masjid memasak sekitar 25 kilogram beras, yang disajikan dalam 300 piring bubur. Jumlah ini kerap bertambah jika ada tamu atau sumbangan bahan dari masyarakat.

Dalam bahasa Bugis, kata peca berarti lembek. Tekstur bubur yang lembut ini dipercaya jemaah sebagai obat panjang umur dan ramah bagi lambung. Namun bagi Tante Alus, nilai utama bubur peca terletak pada kebersamaan.

“Yang penting semua kebagian. Orang tua duluan, baru yang lain. Kalau ada sisa, silakan ambil,” ujarnya.

Pendanaan bubur peca berasal dari sumbangan masyarakat dan donatur tetap. Tante Alus menegaskan dirinya hanya bertugas memasak. Urusan belanja dan pengelolaan dana dipegang pengurus masjid.

Tradisi bubur peca hanya hadir setahun sekali, selama bulan Ramadan. Bubur ini tidak dijual. Siapa pun boleh menikmati, selama niatnya untuk berbuka puasa bersama.

Saat ini, sekitar 40 remaja masjid terlibat membantu memasak, menyajikan, hingga membersihkan peralatan. Mereka juga diajari mencatat takaran bumbu dan tahapan memasak sebagai upaya regenerasi.

“Saya bilang ke anak-anak, kalau saya sudah tidak kuat, kalian yang lanjutkan,” ucap Tante Alus.

Lebih dari 100 tahun berlalu, bubur peca tetap mengepul setiap Ramadan di Samarinda Seberang. Di balik asap tungku dan adukan panjang, tersimpan sejarah, doa dan ketulusan yang terus dijaga agar tak putus oleh zaman.

Related posts

Bazar UMKM dan Pawai Obor Warnai Borneo Muharam Festival 2024 di Islamic Center Samarinda

Aminah

Rektor Unmul Sebut Faperta Sebagai Tolok Ukur Kemajuan Kampus

Ellysa Fitri

Portal Jembatan Mahulu Dibuka, Kendaraan di Atas 8 Ton Tetap Dibatasi

Aminah