Samarinda, Natmed.id – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Samarinda masih menghadapi tantangan pemenuhan dapur layanan. Hingga saat ini, jumlah dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang beroperasi belum mencapai separuh dari kebutuhan ideal.
Koordinator Wilayah Badan Gizi Nasional sekaligus Korwil SPPG Samarinda Hariyono menyebutkan bahwa secara ideal Samarinda membutuhkan 84 dapur untuk menjangkau seluruh penerima manfaat MBG.
“Target kebutuhan dapur di Samarinda itu sebenarnya 84 dapur. Tapi sampai sekarang belum sepenuhnya terpenuhi,” ujar Hariyono saat dihubungi Kamis 19 Februari 2026.
Dari kebutuhan tersebut, dapur yang sudah benar-benar operasional saat ini baru mencapai 41 unit. Artinya, masih sekitar 50 persen yang belum terpenuhi.
“Untuk yang sudah operasional saat ini ada 41 dapur. Jadi memang masih sekitar separuh dari kebutuhan,” jelasnya.
Hariyono berharap ke depan akan semakin banyak pihak yang bergabung dan bermitra dengan BGN untuk mendirikan dapur SPPG, sehingga cakupan layanan MBG di Samarinda bisa optimal.
“Mudah-mudahan ke depan bisa tumbuh sampai 100 persen. Tapi tentu ini juga tergantung pada pihak-pihak yang ingin bergabung dengan BGN,” katanya.
Ia mengakui, pengelolaan dapur SPPG memiliki tantangan tersendiri. Salah satunya adalah menjaga kualitas dan ketahanan pangan dari bahan makanan yang disalurkan kepada penerima manfaat.
“Tantangan pertama tentu menjaga kualitas bahan makanan, supaya yang diterima anak-anak dan kelompok penerima manfaat benar-benar layak dan bergizi,” ujarnya.
Selain itu, perbedaan selera peserta didik juga menjadi tantangan tersendiri bagi pengelola dapur. Menu harus disesuaikan agar tetap diterima oleh anak-anak tanpa mengurangi nilai gizinya.
“Setiap siswa punya selera yang berbeda-beda. Itu juga tantangan bagi SPPG,” tambahnya.
Hariyono juga menyoroti persoalan alergi makanan pada sebagian penerima manfaat. Kondisi ini menuntut dapur untuk melakukan penyesuaian menu secara khusus.
“Kalau ada penerima manfaat yang punya alergi, tentu harus ada penyesuaian menu tersendiri. Itu juga menjadi tantangan bagi dapur,” jelasnya.
