Samarinda

Jejak Panjang Masjid Raya Darussalam Menuju Babak Baru

Teks: Suasana Jemaah usai Salat Jumat di Masjid Raya Darussalam Samarinda (Natmed.id/Aminah)

Samarinda, Natmed.id – Dibangun pada 1920 sebagai masjid kayu tanpa halaman di tepi Sungai Mahakam, Masjid Raya Darussalam Samarinda telah melewati berbagai fase perubahan kota. Revitalisasi yang rampung awal 2026 menandai babak baru bagi masjid tertua di jantung Samarinda itu bukan sekadar lebih indah, tetapi kembali ditegaskan fungsinya sebagai pusat ibadah dan ruang sosial umat.

Teks: Tampak depan Masjid Raya Darussalam Samarinda selesai direvitalisasi (Natmed.id/Aminah)

Masjid ini bermula dari Masjid Jami’ berukuran 25×25 meter persegi, berbahan kayu ulin dengan atap sirap. Tanpa halaman, serambi kanan langsung menghadap jalan, sementara sisi kiri berbatasan dengan sungai. Letaknya yang strategis sekaligus sibuk membuat masjid sejak awal hidup berdampingan dengan denyut ekonomi kota.

Memasuki awal 1950-an, kapasitas masjid tak lagi mampu menampung jemaah, terutama saat Salat Jumat. Tokoh-tokoh masyarakat seperti Datuk Madjo Oerang, APT Pranoto dan KH Abdullah Marisi kemudian memprakarsai renovasi besar pertama. Panitia pembangunan dibentuk, dengan rancangan arsitektur disusun oleh Van Der Vyl dari Dinas Pekerjaan Umum Kalimantan Timur.

Peletakan batu pertama dilakukan pada 9 November 1953 oleh AM Parikesit selaku Kepala Daerah Istimewa Kutai. Saat itu, biaya pembangunan mencapai Rp2,5 juta, angka yang besar pada masanya. Renovasi tersebut mengubah wajah masjid dan memperluas daya tampung jemaah, sekaligus mengukuhkan Masjid Raya Darussalam sebagai pusat ibadah utama di Samarinda.

Lokasi masjid yang berada di kawasan Pasar Pagi, dekat pelabuhan dan pusat perdagangan, sempat menuai kritik. Aktivitas ekonomi dinilai mengganggu kekhusyukan ibadah. Namun waktu membuktikan sebaliknya. Darussalam justru tumbuh menjadi oase spiritual di tengah hiruk-pikuk kota, tempat jemaah singgah dan beribadah di sela rutinitas.

Satu abad kemudian, tantangan yang dihadapi masjid berubah. Bukan lagi soal kapasitas, melainkan kenyamanan, keamanan, dan keberlanjutan fungsi. Pemerintah Kota Samarinda memulai revitalisasi pada 2024 dengan nilai kontrak Rp19,9 miliar. Proyek berlanjut pada 2025 dengan dukungan anggaran tambahan Rp4,79 miliar, hingga total nilai revitalisasi mencapai Rp24,6 miliar.

Pekerjaan difokuskan pada pembenahan interior mihrab, perbaikan kubah, renovasi plafon lantai tiga, serta penambahan atap membran di area wudu. Taman masjid dipercantik dengan lampu hias, sementara kanstin yang rusak diganti. Sistem tata suara juga diperbarui untuk menunjang kenyamanan ibadah.

Di atas lahan seluas sekitar 15.000 meter persegi, masjid kini dilengkapi fasilitas yang lebih fungsional tanpa menghilangkan karakter historisnya. Revitalisasi ini menempatkan Darussalam sebagai masjid yang adaptif terhadap kebutuhan zaman, namun tetap berakar pada sejarahnya.

Peresmian dilakukan usai Salat Jumat 13 Februari 2026. Dalam kesempatan itu, Wali Kota Samarinda Andi Harun menegaskan bahwa renovasi masjid tidak boleh dimaknai semata sebagai proyek fisik.

“Masjid ini adalah bagian dari sejarah dan peradaban kota. Renovasi dilakukan agar Darussalam tetap relevan sebagai pusat ibadah, pendidikan dan kegiatan sosial masyarakat,” ujarnya.

Dengan rampungnya revitalisasi, Masjid Raya Darussalam diharapkan terus memainkan perannya sebagai ruang pemersatu umat, tempat ibadah, refleksi dan kebersamaan di tengah dinamika Samarinda yang terus bertumbuh.

Related posts

Pengurus Daerah JMSI Kaltim Rapatkan Barisan

natmed

Kakanwil Ikmal Idrus Bangkitkan Energi Positif

Alfi

Lapak Pasar Pagi Direbutkan, DPRD Samarinda Ingatkan Solusi Tanpa Konflik

Aminah

Leave a Comment