Samarinda, Natmed.id – Sekitar 3.143 sumur minyak yang tidak aktif di Kalimantan Timur (Kaltim) bakal direaktivasi untuk menambah produksi minyak dan meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD). Jumlah terbesar berada di Kabupaten Kutai Kartanegara, yakni 2.023 sumur, yang selama ini mangkrak dan belum dimanfaatkan.
Wakil Gubernur Kaltim Seno Aji menyebut dengan pengelolaan sumur tua melalui koperasi dan perusahaan daerah (perusda), tambahan produksi diperkirakan bisa mencapai 100–150 ribu barel per hari.
“Kalau ini bisa direaktivasi, bukan hanya lifting nasional bertambah, tapi ekonomi kerakyatan bangkit dan PAD Kaltim juga tumbuh,” ujarnya saat membuka sosialisasi Permen ESDM Nomor 14 Tahun 2025 di Gedung Olah Bebaya Kantor Gubernur, Selasa 11 Februari 2026.
Meski menjanjikan tambahan produksi, Seno Aji menegaskan reaktivasi sumur tua tidak mudah. Banyak pihak yang gagal karena risiko teknis di lapangan, termasuk keselamatan kerja dan pengelolaan limbah B3.
Ia mendorong Pertamina dan SKK Migas memberi edukasi dan pendampingan agar koperasi serta pelaku usaha lokal dapat ikut serta secara aman dan profesional.
Kepala Perwakilan SKK Migas Wilayah Kalimantan dan Sulawesi Azhari Idris menambahkan, keterlibatan daerah penting untuk menutup potensi penurunan produksi nasional.
“Awal 2026 Indonesia kehilangan sekitar 2,5 juta barel minyak akibat gangguan infrastruktur pipa gas di Sumatra. Keterlibatan lokal bisa membantu menutup kekurangan ini,” ujarnya.
Seno Aji juga menyinggung Koperasi Tambang Rakyat (KTR) di Kaltim, yang sampai kini masih terkendala regulasi di tingkat pusat. Izin Usaha Pertambangan (IUP) berbasis koperasi tertahan karena proses hukum di Mahkamah Konstitusi dan Kementerian ESDM. Pemprov Kaltim menunggu arahan dari pusat agar koperasi bisa beroperasi kembali secara legal.
Pemprov optimistis, bila dilakukan secara profesional dan diawasi ketat, reaktivasi sumur idle akan mendongkrak produksi migas, memperkuat PAD, dan memberi manfaat ekonomi langsung bagi masyarakat Kaltim.
