Samarinda, Natmed.id – Ketua Komisi III DPRD Kota Samarinda Deni Hakim Anwar menyoroti praktik pernikahan dini sebagai salah satu faktor risiko utama terjadinya stunting.
Ia menegaskan bahwa pencegahan stunting tidak bisa hanya dilakukan setelah anak lahir, melainkan harus dimulai sejak pranikah dengan memastikan kesiapan kesehatan calon orang tua.
“Kalau kita bicara stunting, itu tidak hanya di hulunya atau hilirnya saja, tapi dua-duanya penting. Pencegahan harus dimulai sejak sebelum menikah, memastikan calon pasangan benar-benar sehat,” ujar Deni saat Rembuk Stunting di Kecamatan Samarinda Ilir, Kamis 5 Februari 2026.
Politisi Partai Gerindra itu menjelaskan, selain pemenuhan gizi pada 1.000 hari pertama kehidupan anak, kesiapan fisik dan kesehatan calon ibu dan ayah menjadi faktor penentu dalam menekan angka stunting. Menurutnya, pernikahan dini kerap membuat perempuan belum siap secara fisik untuk hamil dan melahirkan.
“Salah satu penyebab stunting adalah ketika perempuan belum siap secara fisik untuk hamil dan melahirkan, misalnya tulang panggul yang belum matang. Karena itu pencegahan pernikahan dini harus terus diperkuat,” katanya.
Deni mendorong peran aktif puskesmas, kader posyandu dan PKK dalam memberikan edukasi kepada masyarakat, khususnya generasi muda, mengenai risiko pernikahan dini serta pentingnya kesiapan kesehatan sebelum menikah.
Ia juga menyoroti peran strategis kader posyandu sebagai ujung tombak penanganan stunting di tingkat akar rumput. Kader dinilai memiliki kedekatan langsung dengan masyarakat dan memahami kondisi riil di lapangan.
“Kader posyandu ini sangat penting untuk memastikan balita mendapatkan gizi yang cukup dan tumbuh sehat. Mereka yang paling dekat dengan masyarakat dan tahu kondisi di lapangan,” ujarnya.
Berdasarkan data, angka stunting nasional pada 2024 tercatat 19,8 persen, berada di bawah ambang batas 20 persen yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Namun, di Kota Samarinda angka stunting masih berada di angka 20,3 persen.
Meski demikian, Deni mengingatkan agar upaya pencegahan tidak mengendur. Ia berharap kolaborasi lintas sektor antara pemerintah daerah, tenaga kesehatan, kader posyandu dan masyarakat dapat mempercepat penurunan angka stunting di Samarinda sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia di masa depan.
