Pasuruan, Natmed.id – Aroma durian matang mulai menyergap kebun-kebun di Kecamatan Lumbang, Kabupaten Pasuruan Kamis 29 Januari 2026. Musim panen yang ditunggu setahun penuh akhirnya datang, membawa kesibukan baru bagi petani dan menarik para pembeli datang langsung ke sentra produksi.
Di Desa Pancur dan Desa Kronto, petani tampak keluar masuk kebun sejak pagi. Buah durian yang dipanen langsung disortir dan disusun untuk dijual kepada bakul yang telah menunggu di lokasi.
Minarto, petani durian Desa Pancur, menyebut panen tahun ini mulai memberi harapan. Pembeli datang langsung ke kebun tanpa harus ia kirim ke kota. “Saya tinggal panen, pembeli sudah menunggu dan beli dalam jumlah banyak,” ujarnya.
Ia mengelola kebun durian seluas sekitar enam hektare dengan usia pohon rata-rata 10–12 tahun. Sebelumnya, lahan tersebut ditanami jeruk dan alpukat, namun dinilai kurang menguntungkan dibanding durian.
Menurut Minarto, produktivitas pohon durian sangat bergantung pada usia dan perawatan. “Kalau masih muda sekitar 50 buah per pohon. Kalau sudah di atas 25 tahun bisa sampai 500 buah,” katanya.
Beragam varietas ia tanam, mulai dari bawor, musang king, hingga montong kani. Varietas terakhir menjadi favorit pembeli karena warna dagingnya kemerahan dan rasanya legit.
Kondisi berbeda dirasakan Sodin, petani durian Desa Kronto. Ia mengakui panen kali ini tidak sebanyak tahun lalu akibat cuaca ekstrem saat masa berbunga.
“Hujan deras dan angin membuat banyak bakal buah rontok,” jelasnya.
Meski demikian, Kronto tetap dikenal sebagai desa penghasil durian khas Pasuruan, dengan varietas unggulan Si Kasmin, Si Laron, dan Si Karim. Dari ketiganya, Si Kasmin paling diminati karena ukuran besar dan rasa manis pekat.
Camat Lumbang Didik Suriyanto mengatakan panen durian menjadi momentum ekonomi sekaligus daya tarik wisata lokal.
“Panen raya biasanya setelah Lebaran sampai akhir Maret. Sekarang sudah mulai, silakan datang menikmati durian Lumbang,” ujarnya.
