National Media Nusantara
Nasional

Kehidupan Tradisional Suku Baduy yang Bertahan di Tengah Modernisasi

Teks: Suku Baduy

Natmed.id – Suku Baduy tetap mempertahankan kehidupan tradisional di tengah arus modernisasi yang semakin kuat. Kelompok etnis Sunda ini mendiami wilayah Pegunungan Kendeng, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten, dengan pola hidup yang menyatu dengan alam serta berpegang teguh pada aturan adat turun-temurun.

Suku Baduy dikenal sebagai masyarakat adat yang menjaga keseimbangan alam melalui pikukuh, atau ketentuan adat, yang mengatur seluruh aspek kehidupan mereka. Salah satu prinsip utama yang dipegang adalah larangan merusak alam, sebagaimana tercermin dalam ungkapan adat,

“Gunung tidak boleh dihancurkan, lembah tidak boleh dirusak, yang pendek tidak boleh disambung, dan yang panjang tidak boleh dipotong.”

Secara sosial, masyarakat Baduy terbagi ke dalam dua kelompok utama, yakni Baduy Dalam dan Baduy Luar. Baduy Dalam menjalankan adat secara ketat tanpa kompromi terhadap pengaruh luar, sementara Baduy Luar mulai menerima sejumlah penyesuaian, meskipun tetap berada dalam koridor adat.

Masyarakat Baduy Luar telah diperbolehkan menggunakan barang-barang modern tertentu seperti sabun dan alat elektronik sederhana untuk menunjang aktivitas sehari-hari. Mereka juga membuka diri terhadap kunjungan tamu dari luar daerah hingga mancanegara, bahkan mengizinkan wisatawan menginap di rumah warga. Kebijakan ini berada di bawah pengawasan ketua adat yang dikenal sebagai Jaro.

Perbedaan kedua kelompok juga terlihat dari busana yang dikenakan. Warga Baduy Dalam mengenakan pakaian dominan berwarna putih sebagai simbol kesucian dan keteguhan menjaga keaslian budaya. Sementara itu, Baduy Luar menggunakan pakaian berwarna hitam atau biru tua dalam keseharian mereka.

Dalam struktur adat, Baduy Dalam memiliki tiga kampung utama, yakni Cikeusik, Cikertawana, dan Cibeo. Ketiga kampung ini dipimpin oleh Pu’un sebagai pemimpin adat tertinggi, yang bertanggung jawab atas pengaturan kehidupan spiritual dan sosial masyarakat Baduy secara keseluruhan. Adapun masyarakat Baduy Luar tersebar di sekitar 50 kampung yang berada di kawasan perbukitan Pegunungan Kendeng.

Mengenai asal-usul nama Baduy, terdapat dua versi yang berkembang. Versi pertama menyebutkan bahwa sebutan Baduy diberikan oleh peneliti Belanda karena dianggap mirip dengan masyarakat Badawi di Arab yang hidup berpindah-pindah. Versi lainnya menyebutkan nama Baduy berasal dari Sungai Cibaduy yang mengalir di bagian utara Desa Kanekes.

Di tengah modernisasi yang terus berkembang, Suku Baduy tetap menjaga jati diri dan nilai-nilai leluhur mereka. Keteguhan ini menjadikan Baduy sebagai salah satu cagar budaya hidup di Banten, sekaligus contoh nyata bagaimana tradisi dan kearifan lokal dapat bertahan di era perubahan zaman.

Related posts

Nusantara Logistic Hub Bakal Perkuat Rantai Pasok Domestik

Laras

Kemenkop Dirikan Posko Koperasi untuk Percepat Pemulihan Ekonomi Pascabencana

Aminah

Samsir Pohan Ditunjuk Plt Karang Taruna Sumut

Febiana

You cannot copy content of this page