Samarinda

Meniti Jejak Literasi dari Timur, Kisah Martin Liwu dan Dedikasi 8 Tahun di Dunia Jurnalistik

Teks: Martin Liwu, Wartawan MSI Group asal Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT)

Samarinda, Natmed.id – Di tengah gempuran arus informasi digital yang serba cepat, salah satu wartawan senior di MSI Group, Martin Liwu tetap memegang teguh prinsip dasar jurnalisme, yaitu rasa ingin tahu dan keberpihakan pada realitas sosial.

Jurnalis senior asal Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) ini membagikan kisah perjalanannya selama hampir satu dekade bergelut dengan pena dan fakta.

Martin, yang telah berkecimpung di dunia pers selama kurang lebih delapan tahun, mengawali langkahnya dari tanah kelahirannya di NTT sebelum akhirnya memutuskan untuk melebarkan sayap ke Samarinda dan bergabung dengan MSI Group pada tahun 2022.

Bagi banyak orang, jurnalistik mungkin hanyalah sebuah pekerjaan. Namun bagi Martin, ini adalah kelanjutan dari hobi masa remaja.

Ketertarikannya pada dunia tulis-menulis sudah terpupuk sejak duduk di bangku SMA. Alih-alih menulis fiksi, Ia lebih tertarik merekam denyut nadi kehidupan di sekitarnya.

“Awalnya lebih karena ketertarikan dan hobi menulis sejak SMA, terutama menulis hal-hal yang dekat dengan realitas sosial. Saya selalu bertanya-tanya, kenapa sesuatu terjadi? Siapa yang terdampak dan bagaimana cerita itu jika sampai ke telinga publik?” ungkap Martin pada Kamis, 1 Januari 2026.

Pendidikannya di jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia memberi korelasi yang baik. Namun, Ia mengakui bahwa teori di kelas hanyalah pintu masuk.

Ilmu jurnalistik yang sesungguhnya ia temukan di jalanan, melalui pengamatan mendalam terhadap karya senior, serta praktik langsung yang terkadang keras di lapangan.

Bergabung dengan MSI Group menjadi babak baru bagi Martin untuk meningkatkan standar profesionalismenya. Di sana, Ia menemukan ekosistem yang mendukung pertumbuhan intelektualnya sebagai pemburu berita.

Ia menyebut nama-nama seperti Bang Sukri (CEO MSI Group) dan Bang Samsul (Pimpinan Redaksi) sebagai mentor krusial dalam kariernya.

“Jujur, pengalaman saya diasah lagi sejak bergabung dengan MSI Group. Bang Sukri dan Bang Samsul merupakan guru yang baik bagi saya. Banyak ilmu yang saya timba dari mereka dan rekan-rekan wartawan lainnya di lapangan,” tambahnya.

Meski telah bertahun-tahun menjadi wartawan, Martin mengaku tetap menikmati dinamika profesi ini. Baginya, setiap hari adalah petualangan baru karena selalu ada isu, narasumber, dan sudut pandang berbeda yang Ia temui.

Kepuasan tertinggi baginya bukan sekadar tulisan yang terbit, melainkan ketika karya tersebut mampu memberikan dampak nyata atau setidaknya membuka wawasan masyarakat.

Selain itu, Martin merasakan betul perbedaan signifikan antara gaya kerja wartawan konvensional dan era digital. Di awal kariernya, Ia sempat merasakan perjuangan membangun kepercayaan narasumber yang seringkali memandang sebelah mata jurnalis muda.

Ia menyoroti bahwa tantangan jurnalis masa kini jauh lebih kompleks. Jika dulu fokus utama adalah kedalaman isu dengan ritme yang lebih tenang, sekarang jurnalis dituntut untuk menjadi sosok yang multitasking.

“Dulu ritme kerja lebih lambat dan fokus pada pendalaman. Sekarang, kita dituntut serba cepat dan adaptif terhadap teknologi tanpa boleh mengorbankan akurasi. Tantangannya lebih kompleks, tapi peluangnya juga lebih luas,” jelasnya.

Menutup perbincangan, Martin memberikan wejangan berharga bagi generasi baru yang ingin meniti karier sebagai jurnalis. Ia menekankan bahwa teknik menulis bisa dipelajari, namun integritas adalah sesuatu yang harus dijaga mati-matian.

Ia merumuskan beberapa poin penting bagi jurnalis muda di antaranya, jaga idealisme dengan kritis namun tetap rendah hati untuk terus belajar.

Kemudian menyertai fondasi literasi dengan rajin membaca dan menulis adalah kunci utama. Lalu etika dan integritas, karena modal terbesar seorang jurnalis bukanlah kamera atau pena canggih, melainkan kepercayaan publik.

Selain itu harus memiliki mentalitas yang tangguh, harus siap dikoreksi oleh pimpinan redaksi dan jangan pernah takut bertanya saat di lapangan.

“Jurnalistik bukan jalan instan untuk mencari ketenaran, tapi ini adalah jalan yang sangat kaya akan pengalaman dan pembelajaran hidup,” pungkas Martin.

Related posts

Musrenbang Samarinda Ulu Fokus Prioritas, Camat Paparkan Batas Usulan dan Jalur Alternatif

Aminah

5 Ruas Jalan Samarinda Kini Dihiasi Lampu Ornamen Pesut, Biaya Capai Rp5,2 Miliar

Aminah

MSI Group – JMSI Kaltim Berbagi Rezeki, Dari Juanda Sampai Kantor Gubernur

Phandu

Leave a Comment