Samarinda

Usaha Tenun Sarung Samarinda Bertahan 35 Tahun, Permintaan Tetap Tinggi

Teks: Pemilik usaha sarung tenun, Muhammad Arsyad

Samarinda, Natmed.id — Usaha tenun sarung samarinda terbukti mampu bertahan lintas generasi. Salah satu pengrajin senior mengungkapkan bahwa ia telah menekuni kerajinan ini sejak tahun 1990, saat masih bersekolah.


Pemilik usaha sarung tenun, Muhammad Arsyad, melanjutkan warisan turun-temurun dari kakek, kemudian diteruskan ke ibunya, dan kini menjadi tanggung jawabnya sebagai generasi ketiga.

Selain dikenal sebagai warisan budaya, sarung samarinda telah menjadi ikon kota dan memiliki prospek usaha yang cerah. Pengrajin menyebut permintaan tetap tinggi lantaran jumlah pembuatnya semakin sedikit.

“Sedikit yang memproduksi, namun permintaan banyak. Sarung samarinda terkenal sampai nusantara,” kata Muhammad Arsyad di Toko UD. Cahaya Samarinda, Minggu, 7 Desember 2025.

Dalam memenuhi kebutuhan produksi, bahan baku sarung diperoleh dari berbagai daerah, termasuk luar negeri. Ia menjelaskan bahwa kualitas terbaik berasal dari Cina, sementara bahan lokal juga digunakan untuk kategori kualitas yang berbeda. Meski demikian, bahan baku tidak pernah menjadi kendala selama proses produksi.

Seiring perkembangan zaman, motif dan warna sarung ikut disesuaikan dengan selera pasar.

Selain sarung, Muhammad Arsyad menyampaikan bahwa ia memproduksi berbagai kerajinan lain seperti tas, gelang manik, dan kopiah. Hal ini dilakukan untuk menjaga keberlanjutan usaha agar tidak bergantung pada satu produk.

Dari sisi penjualan, Arsyad mengaku bahwa permintaan selalu stabil bahkan pada masa krisis seperti Covid-19. Pembeli datang dari berbagai daerah, termasuk Balikpapan, hanya untuk mendapatkan sarung tenun Samarinda.

“Orang datang sendiri ke sini untuk membeli sarung. Yang penting saya fokus pada kualitas produk saya,” katanya.

Lebih dalam, Muhammad Arsyad menjelaskan, saat ini terdapat lebih dari 30 pengrajin yang bekerja bersamanya. Kapasitas produksi harian mencapai sekitar 15 sarung tanpa sistem target, sehingga pengrajin dapat bekerja dengan nyaman dan tetap produktif.

Namun Arsyad mengakui bahwa saat ini regenerasi menjadi tantangan besar karena banyak pengrajin berusia lanjut dan sebagian motif lama semakin sulit untuk dikerjakan.

Ia menjelaskan motif kotak-kotak disebut sebagai ciri khas sarung Samarinda dan menjadi yang paling diminati pembeli. Sementara itu, pengrajin memastikan bahwa penjualan sejauh ini tidak pernah mengalami masalah produksi.

Muhammad Arsyad berharap kerajinan sarung tenun Samarinda terus menunjukkan eksistensinya sebagai karya budaya yang tidak hanya bernilai estetika, tetapi juga memberi kontribusi ekonomi bagi masyarakat lokal.

Related posts

Perwali TTP Guru Melihat Kemampuan Keuangan Pemkot Samarinda

Nediawati

Incinerator Samarinda Sudah Rampung, Pemkot Kebut Infrastruktur Pendukung dan Keamanan Kerja

Aminah

Setelah Vaksin Massal, SMPN 1 Samarinda Segera Gelar PTM

Febiana

Leave a Comment